Apa itu Demam ?

Pernahkah anda merasa tidak enak badan?,maka hal yang pertama kali sering dilakukan adalah memeriksa tubuh anda apakah mengalami panas atau demam.jika panas terjadi menandakan sesuatu sedang terjadi di dalam tubuh anda.dan sebenarnya demam atau panas itu sendiri bukanlah merupakan penyakit itu sendiri.

Demam dapat merupakan suatu gejala penyakit atau infeksi. Penyakit menimbulkan demam. Demam juga dapat merupakan suatu akibat pengaruh dari olah raga, cuaca panas atau imunisasi.

Demam adalah suatu kondisi ketika suhu tubuh berada diatas 37,5 derajat celcius.

Suhu tubuh yang normal adalah antara 36ºC sampai 37 ºC. Jika anak Anda demam dengan temperatur yang diukur melalui mulut atau telinga 37,8ºC atau melalui rektum 38ºC dan 37,2ºC melalui ketiak, kemungkinannya anak Anda terserang demam. Anak-anak biasanya terserang demam lebih tinggi dari pada orang dewasa.

Bagaimana Demam Terjadi ?

Demam biasanya terjadi akibat tubuh terpapar infeksi mikroorganisme (virus, bakteri, parasit).

Demam juga bisa disebabkan oleh faktor non-infeksi seperti kompleks imun, atau inflamasi (peradangan) lainnya.

Ketika virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, berbagai jenis sel darah putih atau leukosit melepaskan “zat penyebab demam (pirogen endogen)” yang selanjutnya memicu produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior, yang kemudian meningkatkan nilai-ambang temperatur dan terjadilah demam. Selama demam, hipotalamus cermat mengendalikan kenaikan suhu sehingga suhu tubuh jarang sekali melebihi 41ºC.

Penyebab Demam

Demam bisa muncul pada keganasan (kanker), dehidrasi, drug fever, heat stroke, koma, perdarahan otak, dan lain-lain.

Penyebab demam tersering adalah infeksi. Bisa infeksi virus atau infeksi bakteri.

contoh infeksi virus :

  • Rabies
  • Chikungunya
  • Tifus
  • Hepatitis B
  • Malaria
  • Campak
  • Demam Pada Anak
  • Flu
  • Hepatitis A
  • Herpes Zoster
  • Ebola
  • Hepatitis C
  • MERS
  • Flu Babi
  • Roseola
  • Cacar Air
  • Gondongan
  • Flu Burung
  • Virus Zika
  •  HIV dan AIDS
  •  HPV
  • Flu Singapura
  • Polio
  • Rubella
  • Demam Berdarah

Contoh Inveksi Bakteri :

  • Meningitis
  • Disentri
  • Infeksi Saluran Kemih
  • Tuberkulosis
  • Tetanus
  • Sepsis
  • Difteri
  • Otitis Media
  • Trikomoniasis
  • Candidiasis
  • Radang Panggul
  • Kusta
  • Periodontitis
  • Otitis Eksterna
  • Osteomielitis
  • Tinea Capitis
  • Cholangitis
  • Infeksi Jamur
  • Infeksi Usus
  • Mononukleosis
  • Penyakit Chagas

Beda Demam akibat virus dengan demam akibat bakteri

Virus merupakan parasit sejati dan memiliki ukuran 10 hingga 100 kali lebih kecil dari bakteri. Tubuhnya hanya terdiri dari seluruh protein dan isi yang terdiri DNA saja atau RNA saja. Penyakit AIDS, cacar, polio, hepatitis, dan herpes merupakan contoh penyakit yang disebabkan virus.
Sedangkan ciri-cirinya:

  • Demam tinggi tanpa disertai gejala-gejala lain
  • Demam akut yang mendadak.
  • Panas tinggi sampai 39 derajat celcius tanpa disertai batuk, pilek dan seringkali panas tinggi akan teratasi dengan obat turun panas.
  • Nadi akan berdetak kencang
  • Ada ruam kemerahan (seperti penderita campak, demam berdarah)

Sedangkan bakteri merupakan organisme hidup yang mudah ditemui di mana pun. Penyakit tifus, disentri, kolera, influenza, dan TBC paru-paru, merupakan penyakit yang disebabkan bakteri. Ciri penyakit yang disebabkan bakteri adalah:

  • Demam gradual, suhu tubuh akan naik turun pada minggu pertama dan mendekati minggu ke dua suhu tubuh tinggi, tapi stabil.
  • kecepatan nadi akan melambat saat suhu tubuh meningkat.
  • Disertai gejala lain seperti diare, batuk, pilek

Infeksi virus biasanya disertai gejala-gejala seperti sakit tenggorokan, pilek, kongesti, muntah dan diare. Sistem kekebalan tubuh yang harus menyingkirkan atau membiarkan di dalam tubuh.

Sedangkan untuk penggunaan antibiotik lebih efektif terhadap bakteri dan tidak akan bekerja untuk infeksi virus.

Gejala yang menyertai Demam

“Panas atau Demam terjadi bila pengambilan suhu tubuh melalui mulut (dibawah lidah) di atas 37.5ºC”. Biasanya demam sendiri diikuti oleh kondisi lainnya, seperti gejala dan tanda lainnya yang sering dapat membantu untuk menemukan penyebab dari terjadinya demam tersebut.

Tanda/gejala yang menyertai demam dapat meliputi berkeringat, menggigil, sakit kepala, sakit otot, kehilangan nafsu makan, dehidrasi, badan lemah,diare,muntah,sakit telinga dan lain-lain.

Demam yang sangat tinggi antara 39,4ºC – 41,1ºC dapat menyebabkan halusinasi, kebingungan, mudah marah, bahkan kejang-kejang.

Demam belum tentu menjadi kondisi yang serius, tapi ada beberapa situasi yang memerlukan bantuan medis secepatnya. Berikut ini adalah gejala-gejala lain yang perlu diwaspadai:

  •  Sakit kepala yang parah
  • Muntah-muntah secara terus-menerus
  • Mata menjadi sensitif terhadap cahaya terang
  • Ruam yang muncul dan menyebar dengan cepat
  • Leher terasa kaku dan sakit saat menunduk
  • Sesak napas dan sakit di dada
  • Kejang-kejang
  • Sakit saat buang air kecil
  • Gerakan otot dan panca indera melemah

Mengapa Demam Perlu Diwaspadai ?

Demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi atau masuknya zat asing ke dalam tubuh. Apabila mengalami demam, harus diwaspadai adanya penyakit yang sedang menyerang tubuh. Dengan mengetahui penyebab demam akan sangat membantu menentukan pengobatan bagi penderita.

Dampak Demam

“Dampak Menguntungkan terhadap Fungsi Imunitas (Daya Tahan) Tubuh”

Beberapa bukti penelitian ‘in-vitro’ (tidak dilakukan langsung terhadap tubuh manusia) menunjukkan fungsi pertahanan tubuh manusia bekerja baik pada temperatur demam, dibandingkan suhu normal. IL-1 dan pirogen endogen lainnya akan “mengundang” lebih banyak leukosit dan meningkatkan aktivitas mereka dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Demam juga memicu pertambahan jumlah leukosit serta meningkatkan produksi/fungsi interferon (zat yang membantu leukosit memerangi mikroorganisme).

“Dampak Merugikan”

Kemungkinan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Ketika mengalami demam, terjadi peningkatan penguapan cairan tubuh sehingga anak bisa kekurangan cairan.
Kekurangan oksigen. Saat demam, anak dengan penyakit paru-paru atau penyakit jantung, pembuluh darah bisa mengalami kekurangan oksigen sehingga penyakit paru-paru atau kelainan jantungnya infeksi saluran napas akut.
Demam di atas 42ºC bisa menyebabkan kerusakan neurologis (saraf), meskipun sangat jarang terjadi. Tidak ada bukti penelitian yang menunjukkan terjadinya kerusakan neurologis bila demam di bawah 42ºC.
Anak di bawah usia 5 tahun (balita), terutama pada umur di antara 6 bulan dan 3 tahun, berada dalam risiko kejang demam (febrile convulsions), khususnya pada temperatur rektal di atas 40ºC. Kejang demam biasanya hilang dengan sendirinya, dan tidak menyebabkan gangguan neurologis (kerusakan saraf).

Sebagai contoh, mual dan muntah dengan panas tubuh, berarti adanya gangguan di daerah pencernaan. Atau demam yang disertai oleh batuk dengan reak maka gangguan adalah pada saluran pernafasannya.

Demam pada bayi dan anak umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Pada demam yang disertai sariawan, ruam cacar, atau ruam lainnya yang mudah dikenali, virus sebagai penyebab demam dapat segera disimpulkan tanpa membutuhkan pemeriksaan khusus. Demam ringan juga dapat ditemukan pada anak dengan batuk pilek (common colds), dengan rinovirus salah satu penyebab terseringnya. Penyebab lain demam pada anak adalah enteritis (peradangan saluran cerna) yang disebabkan terutama oleh rotavirus.

Demam pada Infeksi Bakteri

Di antara demam yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada anak, salah satu yang paling sering ditemukan adalah Infeksi Saluran Kemih (ISK). Umumnya tidak disertai dengan gejala lainnya. Risiko paling besar dimiliki bayi yang berusia di bawah 6 bulan.

Infeksi bakteri yang lebih serius seperti pneumonia atau meningitis (infeksi selaput otak) juga dapat menimbulkan gejala demam. Namun demikian persentasenya tidaklah besar. Dari bayi lebih dari 3 bulan dan anak 1-3 tahun dengan demam >39ºC, hanya 2% (1–3.6%) saja yang bakterinya sudah memasuki peredaran darah (bakteremia).

Pada golongan usia ini, program imunisasi HiB berhasil menurunkan risiko meningitis bakterial secara sangat signifikan. S. pneumoniae (penyebab utama infeksi bakteri yang cukup serius) hanya ditemukan pada lebih dari 2% populasi. Dan sebagian besar anak dalam golongan usia ini dapat mengatasi S. pneumoniae tanpa antibiotika. Hanya 10%-nya yang berlanjut menjadi pneumonia yang lebih berat dan 3-6% menjadi meningitis. Usia yang menuntut kewaspadaan tinggi orangtua dan dokter adalah usia di bawah 3 bulan. Bayi harus menjalani pemeriksaan yang lebih teliti karena 10%-nya dapat mengalami infeksi bakteri yang serius, dan salah satunya adalah meningitis. Untuk memudahkan penilaian risiko tersebut, ada beberapa poin untuk mengidentifikasi risiko rendah infeksi bakteri serius pada bayi yang demam.

Kriterianya adalah:

Bayi tampak baik-baik saja.
Bayi sebelumnya sehat.
Lahir cukup bulan (= 37 minggu kehamilan).
Tidak ada riwayat pengobatan untuk hiperbilirubinemia (kuning) tanpa sebab yang jelas.
Tidak ada riwayat pengobatan dengan antibiotika.
Tidak ada riwayat rawat inap.
Tidak ada penyakit kronis atau penyakit lain yang mendasari demam.
Dipulangkan dari tempat bersalin bersama / sebelum ibu.
Tidak ada tanda infeksi kulit, jaringan lunak, tulang, sendi, atau telinga.

Walaupun diketahui bahwa sebagian besar penyebab demam adalah infeksi virus, namun data menunjukkan bahwa justru sebagian besar tenaga medis mendiagnosisnya sebagai infeksi bakteri. Dalam satu penelitian di Amerika Serikat, persentase ini mencapai 56 %. Dan pada penelitian yang sama masih ditemukan adanya pemberian antibiotik pada demam yang belum jelas diidentifikasi penyebabnya (virus atau bakteri).

Demam Tidak Selalu Infeksi dan Infeksi Tidak Selalu Demam

Sudah lazim diyakini masyarakat, demam merupakan tanda utama infeksi kuman terhadap tubuh manusia. Pendapat ini sudah mengakar kuat dalam masyarakat. Infeksi apapun, Demam Berdarah, Typhoid Fever, Infeksi Saluran Kemih, Radang Tenggorokan, dll menyebabkan peningkatan suhu tubuh (demam). Pendapat ini tidak sepenuhnya benar karena infeksi tidak selalu disertai demam dan demam tidak harus infeksi.

Demam dalam pemahaman masyarakat merupakan peningkatan suhu tubuh di atas kewajaran. Masyarakat kadang menggunakan istilah “sumer” guna menggambarkan peningkatan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi. Istilah – istilah popeler tsb sering salah kaprah.

Per definisi demam (febris) adalah peningkatan suhu tubuh sebagai bagian dari mekanisme tubuh merespons benda asing, salah satunya adalah kuman. Konsensus menyatakan bahwa suhu optimal manusi berkisar 36,5 – 37,5 derajat Celcius. Di bawah 36,5 derajat Celcius disebut Hipotermi sedangkan di atas 37,5 derajat Celcius disebut Hipertermi. Hipertermi merupakan istilah umum untuk mengilustrasikan peningkatan suhu tubuh di atas normal tanpa memandang penyebabnya. Selain infeksi kuman, dehidrasi juga mampu membuat suhu tubuh terukur di atas normal. Begitu pula dengan paparan suhu tinggi lingkungan (heat stroke). Khusus hipertermi akibat infeksi digunakan istilah febris atau pireksia. Istilah hiperpireksia atau febris tinggi digunakan untuk demam tinggi di atas 39-40 derajat Celcius.

Berbeda dengan para praktisi kesehatan. Masyarakat tidak mengenal istilah-istilah febris, hipertermi, atau hiperpireksia dan tidak memiliki akses pengetahuan untuk membedakannya. Masyarakat hanya familiar istilah demam apapun penyebabnya.

Dalam kacamata medis, perbedaan penyebab peningkatan suhu tubuh berpengaruh pada mekanisme bagaimana demam terjadi dan jenis pengobatan yang rasional. Dehidrasi menyebabkan suhu tubuh meningkat karena volume cairan tubuh yang turun mengakibatkan tubuh tidak mampu mengendalikan suhu tubuh tetap normal. Paparan suhu tinggi lingkungan terhadap tubuh menimbulkan peralihan kalor / energi panas dari lingkungan ke tubuh. Ilustrasi sederhana adalah kita duduk di dekat api unggun tubuh kita akan terasa hangat. Paparan suhu tinggi yang mana menimbulkan peningkatan suhu tubuh secara ekstrim dikenal dengan heat stroke.

Berbeda dengan peningkatan suhu tubuh akibat infeksi. Kuman melakukan invasi dan kolonisasi terhadap tubuh manusia pada level tertentu akan memicu sistem imunitas (sishankam tubuh) berespons. Tubuh akan melipatgandakan produksi sel-sel “tentara” darah putih beserta peralatan perangnya (complement, interferon, dll). Respons tubuh tsb akan memberikan sinyal ke otak (hipotalamus, pusat pengatur panas tubuh) mensetting ulang sistem suhu tubuh pada level “siaga” agar optimal melawan infeksi kuman. Level “siaga” yang ditandai peningkatan suhu tubuh ini membuat sel-sel tentara lebih aktif dan mematikan daripada dalam kondisi biasa. Ini adalah bagaimana demam infeksi terjadi dan berlangsung.

Namun, tidak semua tubuh manusia memberikan respons yang sama. Pada tubuh imunocompetent (daya tahan prima) demam infeksi jarang dirasakan penderita. Infeksi-infeksi semacam demam berdarah, typhoid fever (tipes), dan lain – lain kadangkala dirasakan seperti flu biasa, batuk pilek dan nyeri tenggorokan ringan. Saat di cek lab akan tampak tanda-tanda pola infeksi sesuai dengan penyebabnya, misalnya IgM antiDengue positif dll. Tubuh imunocompetent sudah mampu menanggulangi infeksi kuman tanpa harus aktivasi level “siaga”. Penyakit infeksi sembuh spontan tanpa intervensi medis. Bila tidak berhasil, tubuh akan naik ke level “siaga”.

Sebaliknya, pada pasien imunocompromised (daya tahan rendah) seperti pada lansia, kencing manis, kanker, cangkok, AIDs, dll infeksi juga jarang menimbulkan demam. Mekanisme nya berbeda dengan pasien imunocompetent. Pasien imunocompromised tidak mampu memberikan respons/reaksi yang tepat sehingga infeksi kuman jarang disadari. Tiba-tiba pasien diketahui menderita infeksi parah dan terjatuh dalam kondisi kritis. Biasanya pasien-pasien imunocompromised mengeluh pusing, badan lemes, mual, dan jarang diikuti dengan demam.

Pada bayi infeksi juga tidak selalu ditandai demam dan terkadang malah hipotermia. Hal ini disebabkan “sishankam” bayi belum sematang orang dewasa. Kewaspadaan orang tua amat penting. Selain demam, tanda-tanda infeksi pada bayi dapat berupa lemes, malas minum, rewel tanpa sebab jelas, atau suhu tubuh rendah.

Berdasarkan diskusi singkat di atas, kita memahami fenomena demam dan infeksi. Keduanya tidak harus selalu beriringan sehingga kita lebih waspada dan “care” terhadap infeksi. Keluhan badan lemes, kurang tenaga, keringat dingin, atau pusing tidak boleh diremehkan karena bisa jadi itu adalah tanda-tanda infeksi.

Penyakit demam yang perlu diwaspadai :

1. Demam Viral

Sebuah demam yang terjadi karena infeksi virus. Jenis demam ini biasanya terjadi selama 9 hari. Jenis demam ini demam juga disertai dengan infeksi tenggorokan.

2. Demam Berdarah Dengue

Jenis demam ini bisa mematikan. Demam ini terjadi karena gigitan nyamuk yang disertai dengan nyeri pada sekujur tubuh. Penderita akan mengalami demam yang sangat tinggi dan menggigil. Dalam kondisi parah, demam berdarah dapat menyebabkan pendarahan internal.

3. Malaria

Malaria adalah jenis demam yang disebabkan oleh gigitan nyamuk. Beberapa orang di daerah tropis telah meninggal karena demam ini. Demam tinggi dengan menggigil merupakan gejala khas dari malaria. Hal ini dapat mengancam jiwa setelah menjadi ganas atau mempengaruhi otak.

4. Chicken Guinea

Demam ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan ayam. Ini juga merupakan infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk. Demam ini kurang mematikan jika dibandingkan dengan malaria dan demam berdarah tetapi memiliki gejala yang hampir sama.

5. Tifus

Tifus adalah demam yang terjadi karena infeksi perut. Jika Anda makan makanan atau air yang telah terinfeksi oleh bakteri tipus, Anda akan mengalami demam tinggi yang disertai sakit kepala dan diare parah.

6. Meningitis

Meningitis adalah jenis radang otak yang mempengaruhi jaringan lunak dari sistem otak dan saraf. Demam ini bisa menyebabkan kerusakan otak dan sering disertai dengan kejang dan sakit kepala.

7. HIV

Salah satu tanda awal dari infeksi HIV adalah demam ringan tetapi terus-menerus. Kondisi ini bisa diatasi dengan mengonsumsi obat meskipun nantinya datang kembali. Jika Anda memiliki demam ringan selama seminggu lebih, Anda bisa mengecek apakah Anda terkena HIV, terutama bagi Anda yang pernah terjerumus dalam narkoba dan seks bebas.

8. Infeksi Saluran Kemih

Kadang-kadang, infeksi pada saluran kemih dapat membuat Anda mengalami demam. Bukan demam tinggi, tetapi akan disertai dengan nyeri di perut bagian bawah dan rasa terbakar saat buang air kecil.

Inilah delapan jenis demam yang perlu Anda waspadai. Jangan anggap sepele demam yang Anda rasakan karena itu bisa berdampak fatal pada kesehatan Anda.

Sumber: NUCLEUS PRECISE NEWSLETTER #29, January 13, 2009